
Monolog Butet Kertarajasa dalam acara deklarasi damai ketiga pasangan capres/cawapres di Hotel Bidakara, Rabu malam (10/6) membuat orang-orang Demokrat berang.
"Kampanye damai adalah acara resmi KPU dan bukan seperti acara di Republik Mimpi. Butet jangan jadi burung Betet yang ngoceh seenaknya. Jangan sampai deklarasi damai justru menjadi arena penabuhan genderang perang,"komentar Alimuksin, Wakil Sekjen Wirakarya SOKSI.
"Jangan memanfatkan situasi untuk menusuk dari depan, karena acara kemarin itu damai, kalau acara kemarin itu buat saya tidak fair dan agak ganjil,"kata Ketua DPP Partai Demokrat Sutan Bhatoegana.
"Kesenian parodi yang diluar kepatutan yang menampilkan sindiran, apalagi memperolok dengan cara meniru suara almarhum mantan presiden kita, sungguh diluar kepatutan,"komentar Hatta Rajasa, Ketua Tim Sukses Nasional SBY-Boediono.
Orang SBY memang pantas panas dengan kritikan Butet soal kondisi bangsa lima tahun terakhir itu. Dia antara lain mengkritik soal Ambalat, pesawat TNI, TKI, DPT, kebijakan ekonomi, sampai soal survei pesanan.
Butet tampil dengan gaya teatrikal disaksikan langsung oleh pasangan capres/cawapres.
Orang SBY seharusnya tidak perlu tersinggung dengan kritikan Butet. Selain karena ini negara demokrasi yang menganggab wajar adanya kritikan, juga karena apa yang disampaikan Butet adalah fakta. Semua rakyat sudah tahu bahwa itu semua bagian dari kegagalan pemerintahan SBY-JK dalam lima tahun ini.
Hendaknya kritikan Butet menjadi cambuk bagi ketiga pasangan capres/cawapres agar bila berkuasa nanti, jangan cuma mikir diri sendiri dan kelompok.