
Politik praktis menganut kredo, halalkan segala cara. Simbol-simbol agama yang sakral pun "dikotorkan" hanya demi meraup kekuasaan.
Itulah yang dipertontonkan dalam salah satu fragmen dari drama pertarungan pilpres 2009 ini. Istri pasangan SBY-Boediyono tidak meggunakan jilbab. Sedangkan, istri JK-WIN memakai jilbab.
Mengenakan jilbab dan tidak mengenakan jilbab sudah menjadi kebiasaan dari masing-masing istri dua pasang kandidat tersebut.
Tapi kenapa mesti dipersoalkan? Jawabannya simpel. Mayoritas pemilih dalam pilpres 8 Juli nanti menganut agama Islam. Karena itu, tim sukses dari pasangan JK-WIN menjadikan kebiasaan mengenakan jilbab dari istri JK dan Wiranto sebagai komoditas politik agar dipilih pemilih Islam. Berjilbab sebagai ekspresi iman direduksi pemaknaannya sebagai marketing politik.
Sebaliknya, kebiasaan tidak berjilbab istri SBY dan Boediono dijadikan senjata untuk memberikan kesan tidak islami bagi keluarga SBY atau pun Boediyono. Tujuannya, tentu agar pemilih Islam tidak bersimpati kepada pasangan SBY-Boediyono.
Rakyat tentu berharap agar isu-isu keagamaan yang sensitif seperti ini jangan masuk ke ranah politik. Selain itu, perdebatan semacam ini hanya membuang-buang waktu dan energi. Sebaiknya, isu neolib dan ekonomi kerakyatan yang juga sudah ramai diperbincangkan terus digelindingkan. Para kanidat dan timnya harus menjelaskan kepada publik bagaimana gagasan tentang dua aliaran ekonomi itu nanti dijabarkan dalam kebijakan konkret. ***PET
Tidak ada komentar:
Posting Komentar