
Lagi-lagi soal jilbab. PKS meminta istri SBY dan Boediyono mengenakan jilbab. Menjadi aneh karena permintaan itu dikaitkan dengan politik, bukan semata-mata soal kewajiban perempuan muslim menutup aurat.
Ahmad Suaedy, Direktur Eksekutif The Wahid Institute dalam sebuah seminar bertajuk "Pancasila dalam Pusaran Globalisasi dan Fundamentalisme", Senin (1/6) mengkritik dorongan PKS itu sebagai kemunduran partai tersebut.
Suaedy mengatakan dorongan PKS tersebut adalah soal tawar-menawar politik bukan hal yang substansial.
Saya sepakat dengan Suaedy. Wacana berjilbab hanya dijadikan tawar-menawar politik, tidak lagi dimaknai secara substansial.
Sama seperti Suaedy saya menyarankan agar istri SBY-Boediyono tidak menurut saja kemauan PKS. Lain cerita kalau memang keduanya, atas dorongan hati nurani sendiri mengenakan jilbab, bukan karena desakan dari luar.
Rakyat berharap agar politisi jangan cuma berkutat pada persoalan simbolik saja, tetapi berpikirlah secara serius nasib ratusan juta rakyat Indonesia bila kalian kelak memegang kekuasaan. Ada banyak persoalan yang menuntut perhatian serius dari pada sekadar perdebatan soal-soal simbolik. ***PET
Tidak ada komentar:
Posting Komentar