Senin, 15 Juni 2009

Jadi Korban Iklan


Sabtu (13/6) saya menikmati perjalanan dengan bus Trans Jakarta. Dari Halte Matraman menuju Dukuh Atas dilanjutkan ke Pejaten-Pasar Minggu. Lalu lintas Jakarta cukup lengang membuat perjalanan lancar. Penumpang bus tidak banyak sehingga saya pun tidak berdiri seperti hari-hari biasanya.

Melintasi kawasan Kuningan mata terasa nikmat menyaksikan gedung-gedung tinggi. Jalan raya Rasuna Sahid pun tampak indah dengan kondisi jalan yang sepi dari kendaraan. Mata pun dengan leluasa memandang taman kota yang hijau oleh pohon-pohon.

Tetapi telinga saya yang agak terganggu. Setiap kali bis mau meninggalkan satu halte, petugas penjaga pintu bus memberikan perintah kepada sang sopir: Lanjut!!!

Kata perintah tersebut diucapkan dari halte ke halte. Mendegar itu, pikiran langsung tertuju ke Pasanan SBY-Boediono. Meski tidak ada "Kan"-nya, tetapi kata "Lanjut" kalau diucapkan dengan nada tegas, sudah langsung diasosiasikan dengan tag line SBY-Boediono,"Lanjutkan".

Tapi karena otak ini tak berhenti berpikir, saat mata saya menyaksikan tukang minta-minta diperempatan Mampang, dalam hati muncul pertanyaan, "Kemiskinan seperti yang dialami pengemis inikah yang mau dilanjutkan SBY-Boediono?"

Mengemis atau meminta-minta dilakukan oleh anak jalanan di Jakarta ditengah lalu lalangnya orang kaya. Bangsa ini pun kurang lebih demikian. Di tengah melimpahnya kekayaan alam negeri ini, pemerintahnya masih mengemis dana dari IMF, Bank Dunia untuk biaya pembangunan. Inikah yang mau dilanjutkan?

Oh..jangan.

Tidak ada komentar:

Pengikut